Senin, 05 Februari 2018

Makanan KHAS KARO

Makanan Khas Tanah Karo

Mejuah-juah teman… ^_^ jumpa ka kiita….
Kali ini saya akan membahas tentang makanan khas suku karo di tanah Karo, Sumatra Utara.  dan cara pembuatannya. masakan karo  juga  yang terkenal dengan rasa pedas dan  rasa asin dan cara memasaknya yang berbeda dari kebanyakan masyarakat di indonesia…
  • beberapa informasi yang akan saya berikan mengenai masakan karo dan cara pembuatanya.
  1. Trites.th (8) Terites adalah makanan khas Karo yang terbuat dari bahan pokok utama makanan lembu/kerbau yang masih ada di lambung (usus besar) yang sudah dihaluskan kembali oleh kerbau/lembu tetapi belum dihisap sarinya. Ketika lembu/kerbau dipotong, bahan dari dalam usus tersebut dipisahkan dulu dalam wadah yang lain. Makanan ini sungguh lezat dan menurut tradisi karo makanan ini juga berkhasiat mengobati sakit perut.
    Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat trites ini adalah :
    1. Bahan trites 2 kg
    2. Usus/cincang lembu ½ kg
    3. Kelapa 2 butir
    4. Daun jeruk purut 5 lembar
    5. Serai 3 biji
    6. Cabe secukupnya
    7. Bawang putih 6 siung
    8. Bawang merah 6 siung
    9. Kunyit 1 butir (agak besar)
    10. Asam patikala 15 buah
    11. Garam secukupnya
Cara membuat :  Bahan trites ditambah air sedikit, lalu diperas sebanyak 2 kali, airnya yang akan dipakai, ampasnya bisa dibuang. Air perasan tadi disaring dengan kain kasa yang bersih dan selanjutnya dimasukkan ke dalam wadah untuk memasak (di Karo biasa dibuat periuk tanah) lalu dimasak di api sedang dan dimasukkan cincang/usus lembu. Masukkan daun jeruk, serai dan sedikit garam. Biarkan mendidih, dan buang buih yang timbul sampai tidak berbuih lagi. Setelah daging usus/cincang lembut, masukkan asam (dipukul saja), haluskan kunyit, bawang putih, bawang merah dan cabe. Biarkan beberapa saat, lalu santan dimasukkan, tunggu beberapa saat. Proses memasak terites ini memakan waktu yang cukup lama. Aromanya akan merangsang selera makan kita.
2. CImpa
fff.jpg
Cimpa begitu Masyarakat Karo menyebutnya, kue ini sepintas atau bisa dikatakan hampir mirip dengan kue Unti. Kue ini terbuat dari beras ketan merah sebagai bahan utamanya, sebagai isinya mengunakan gula yang di campur dengan kelapa parut, dan sebagai baju luarnya pada umumnya mengunakan daun pisang atau semacam daun palem tapi saya kurang tau jenisnya yang mana.
Seiring dengan cita rasa manusia yang semakin berkembang, maka cita rasa dari Cimpa ini pun makin beragam, banyak yang menambahkan isinya dengan cita rasa buah lain seperti durian, jadi campuran isi dari kue Cimpa ini selain gula batak dan kelapa parut yang di sangrai ditambahkan dengan rasa buah lainnya, dan dapat menciptakan rasa dan aroma baru dari Cimpa tersebut.
Ada lima jenis cimpa yaitu, cimpa tuang, cimpa gulame, cimpa bicara siang (matah), cimpa unung-unung, cimpa lepat. Kue Khas Suku Karo ini biasa di sajikan bila ada pesta-pesta, baik itu pesta pertemuan kelaurga (Perpulungen), sampai pesta adat yang besar seperti perkawinan atau kerja tahun(Merdang merdem), pesta memasuki rumah baru. Sehingga Cimpa ini bisa disebut juga kue yang bisa kita dapat dan nikmati kala ada pesta, perpulungan, atau acara besar lainya, maka bisa dikatakan Cimpa merupakan salah satu simbol dari kekhasan makan Karo.
3.Lemang/ lires
th (9)
lemang yaitu makanan yang terbuat dari beras ketan atau beras pulut yang di masak  dalam bambu. rasanya yang enak dan gurih membuat banyak masyarakat yang suka dengan rasanya.
Bahan :
  1. 1kg beras ketan/ beras pulut,cuci saampai bersih dan tiriskan
  2. 1 liter santan
  3. 1 tangkai daun pusang
  4. 2 lembar daun pandan
  5. 1 batang daun muda berdiameter 8 cm yang sudah di tiriskan.
Cara Membuat :
  • lapisi tepi bamambu dengan daun pisang.
  • campurkan beras ketan dengan santan dan daun pandan, aduk sampai merata dan taburkan garam secukupnya.
  • masukan beras ke dalam bambu, namun jangan sampai penuh, cukup 3/4 bagian saja an tutup bambu dengan daun pisang.
  • siapkan api untuk membakar bambu yang berisi ketan, bakar bambu dan tunggu sampai matang.
Lemang memiliki rasa yang unik karena peroses pembuatan lemang yang dibakar di dalam bambu sehingga  menciptakan rasa yang unik dan khas. kunci pembuatan lemang ada pada bambu yang di gunakan karena bambu mempenaruhi lamanya kematangan dan rasa dari lemang.

4.Ayam Tasak Telu, Masakan Khas Batak karo

tt

Selain Kidu, masyarakat Batak juga mengenal masakan lainnya yaitu ayam tasak telu. Masakan ini sangat dikenal dalam masyarakat Batak.
“Tasak telu” secara harafiah berarti “masak tiga” atau “tiga masakan”. Masakan pertama adalah ayam rebus. Setelah direbus dengan bumbu, air rebusannya disisihkan dan disajikan sebagai kuah atau sup. Ayam rebusnya – termasuk jeroannya – dipotong-potong untuk disajikan. Bila dikehendaki, ayam rebus ini dapat dimasak lagi sebentar dengan darah ayam. Dalam bahasa setempat, darah disebut “gota” yang sebenarnya berarti getah.
Bagian tulang-tulangnya dimasak lagi dengan sebagian kuah dan dicampur dengan cipera. Cipera terbuat dari bulir jagung tua yang ditumbuk halus. Dengan tambahan bumbu-bumbu, campuran ini menjadi kuah kental yang gurih. Kuah kental ini adalah elemen kedua dari sajian ayam tasak telu – nanti diguyurkan pada ayam rebus ketika menyantapnya.Elemen ketiganya adalah cincang sayur. Berbagai sayur rebus – kacang panjang, batang pisang, jantung pisang, daun pepaya, daun singkong, tauge – diurap dengan parutan kelapa berbumbu.

5. cipera
eee
Di Tanah Karo, ada masakan ayam yang sangat populer dengan nama cipera. Potongan ayam kampung – termasuk leher, sayap, kaki, hati-ampla – dimasak dengan tepung jagung sampai empuk dan berkuah kental. Tepung jagungnya harus dari bulir tua jagung Medan, agar menghasilkan kuah yang kental. Tepung jagung inilah yang sebenarnya disebut cipera. Kuah kental ini bercitarasa pedas karena memakai tuba (andaliman = Shanghai peppercorn), dan sedikit asam karena memakai asam cikala (dari buah honje kecombrang). Selain ayam, juga dicampurkan jamur merang ke dalam kuah.
Terima kasih telah mengunjungi blog saya teman-teman.. mejuah-juah..^_^

Sifat dan Tabiat orang KARO

MEJUAH-JUAH......

Adapun post ini adalah rangkuman dari sebuah artikel berjudul “Sifat dan Tabiat Orang Karo” yang ditulis oleh Drs. Tridah Bangun. Kebetulan artikel tersebut diterbitkan dalam kumpulan artikel-artikel tentang masyarakat Karo dengan judul yang sama (Bangun, Tridah. Sifat dan Tabiat Orang Karo. Yayasan Lau Simalem, Jakarta, 2006). Meski menurut saya artikel-artikel tersebut agak kurang ilmiah dan banyak kesalahan tata bahasa juga kaedah artikel ilmiah, tapi ternyata mempunyai daya tarik yang sangat besar untuk dibaca dan benar-benar memberi wawasan yang sangat luas tentang masyarakat Karo. Untung, kemaren balik ke Jakarta, coba kalo enggak, gak bakal nemu ni buku :mrgreen:
Tulisan beliau tersebut juga merupakan hasil wawancara terhadap 3 orang pakar adat istiadat Karo yakni (alm.) Nulbasi Bangun, (alm.) Sental Sinuraya, dan (alm.) Gancih Tarigan dan hasil-hasil penggalian tulisan-tulisan dengan tema serupa yang sudah ditulis sejak lama. Ada paling tidak ditulis pada artikel tersebut 15 sifat-sifat yang umum dimiliki oleh manusia Karo.
Sifat-sifat yang dituliskan dalam artikel tersebut (beserta penjelasannya yang sudah saya ringkas, tentunya  ) antara lain :

  • Jujur Orang Karo umumnya tinggal di kampung. Mereka hidup dengan kekeluargaan dan kebersamaan yang tinggi di lingkungan tradisional tersebut. Oleh karena itu segala hal seperti memberi dan menerima dilakukan secara wajar tanpa ada kecurangan. Biasanya jika diketahui ada yang berbuat curang maka akan mendapat hukuman yang berat dari masyarakat.
    (Kalo ini mah keknya sebagian masyarakat rural kek gini deh *sigh*)
  • Tegas Manusia Karo memiliki sifat tegas, cepat berpikir, dan cepat bertindak. Mereka tidak begitu lembut menghadapi suatu masalah, apalagi masalah yang dianggap prinsipil, meski sebenarnya dapat memberi risiko bagi diri sendiri ataupun keluarganya.
    (Entah alasannya apa, tapi sifat ini kurang tau juga apa keliatan atau enggak. Keknya sih bener… :P)
  • Berani Sejak kecil seorang Karo diajar oleh orang tuanya atau neneknya bahwa setiap manusia sederajat, tidak ada yang lebih istimewa tidak ada yang lebih hina. Yang berbeda hanyalah suratan tangan dan takdirnya. Mungkin hal ini lah yang menyebabkan seorang Karo tidak pernah ragu untuk berbuat atau pergi ke mana pun. Mereka berani karena benar dan mengaku salah jika memang melakukannya.
    Keberanian ini juga ditunjukkan ketika berkecamuk perang antara kerajaan Deli dan kerajaan Aceh pada abad XVII dan juga perjuangan melawan penjajahan Belanda.
    (No comment….  )
  • Percaya Diri Umumnya orang Karo percaya pada kekuatannya sendiri. Mereka jarang menggantungkan nasib pada orang lain.
  • Pemalu (Mungkin maksudnya tahu malu kali ya…..)
    Sifat pemalu dimiliki dengan kuat oleh orang Karo, terutama rasa malu kalau menggantungkan diri pada orang lain dan juga kalau harga diri dan nama baik keluarga sudah tercoreng.
  • Tidak Serakah Secara umum orang Karo tidak serakah atau tamak. Mereka memang mendambakan hidup sejahtera namun bukan melalu cara serakah. Mereka gigih mempertahankan sesuatu kalau memang itu adalah haknya.
  • Mudah Tersinggung dan Pendendam Kebanyakan orang Karo cepat tersinggung jika dirinya atau keluarganya dikata-katai secara negatif oleh orang lain, baik secara terbuka maupun terselubung. Kalau sudah tersinggung orang tersebut segera menjumpai orang yang menghinanya dan menyelesaikan dengan segera. Kalau tidak maka akan berlarut menjadi dendam. Biasanya dendam itu ingin dilunasi dengan cara yang kurang pertimbangan rasional.
    Untuk menghindari penyelesaian secara irasional, biasanya ada pihak ketiga yang berusaha mendamaikan secara adat.
  • Berpendirian Teguh Orang Karo umumnya berpendirian teguh. Sekali memiliki suatu pendirian, sukar baginya untuk merubah pendiriannya tersebut, kecuali kalau dalam situasi terpaksa. Tapi biasanya ini terjadi saat-saat tertenu, misalnya bersandiwara atau pada orang lain.

    cukup sekian dulu yaa guys, kalo ada yang pemgen nambahin infonya please di like + comment yaa...

    MEJUAH-JUAH....

Adat dan Budaya Masyarakat KARO

MEJUAH-JUAH.......

SUKU KARO

SUKU Karo
Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.

Eksistensi Kerajaan Haru-Karo

Kerajaan Haru-Karo mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera, namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya "Karo dari Zaman ke Zaman" mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama "Pa Lagan". Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari suku Karo. Mungkinkah pada masa itu kerajaan haru sudah ada?, hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.(Darman Prinst, SH :2004)
Kerajaan Haru-Karo diketahui tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka dan Aceh. Terbukti karena kerajaan Haru pernah berperang dengan kerajaan-kerajaan tersebut.
Kerajaan Haru identik dengan suku Karo,yaitu salah satu suku di Nusantara. Pada masa keemasannya, kerajaan Haru-Karo mulai dari Aceh Besar hingga ke sungai Siak di Riau. Eksistensi Haru-Karo di Aceh dapat dipastikan dengan beberapa nama desa di sana yang berasal dari bahasa Karo. Misalnya Kuta Raja (Sekarang Banda Aceh), Kuta Binjei di Aceh Timur, Kuta Karang, Kuta Alam, Kuta Lubok, Kuta Laksmana Mahmud, Kuta Cane, Blang Kejeren, dan lainnya. (D.Prinst, SH: 2004)
Terdapat suku Karo di Aceh Besar yang dalam logat Aceh disebut Karee. Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh ini diakui oleh H. Muhammad Said dalam bukunya "Aceh Sepanjang Abad", (1981). Ia menekankan bahwa penduduk asli Aceh Besar adalah keturunan mirip Batak. Namun tidak dijelaskan keturunan dari batak mana penduduk asli tersebut. Sementara itu, H. M. Zainuddin dalam bukunya "Tarikh Aceh dan Nusantara" (1961) dikatakan bahwa di lembah Aceh Besar disamping Kerajaan Islam ada kerajaan Karo. Selanjunya disebutkan bahwa penduduk asli atau bumi putera dari Ke-20 Mukim bercampur dengan suku Karo yang dalam bahasa Aceh disebut Karee. Brahma Putra, dalam bukunya "Karo Sepanjang Zaman" mengatakan bahwa raja terakhir suku Karo di Aceh Besar adalah Manang Ginting Suka.
Kelompok karo di Aceh kemudian berubah nama menjadi "Kaum Lhee Reutoih" atau kaum tiga ratus. Penamaan demikian terkait dengan peristiwa perselisihan antara suku Karo dengan suku Hindu di sana yang disepakati diselesaikan dengan perang tanding. Sebanyak tiga ratus (300) orang suku Karo akan berkelahi dengan empat ratus (400) orang suku Hindu di suatu lapangan terbuka. Perang tanding ini dapat didamaikan dan sejak saat itu suku Karo disebut sebagai kaum tiga ratus dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus.
Dikemudian hari terjadi pencampuran antar suku Karo dengan suku Hindu dan mereka disebut sebagai kaum Jasandang. Golongan lainnya adalah Kaum Imam Pewet dan Kaum Tok Batee yang merupakan campuran suku pendatang, seperti: Kaum Hindu, Arab, Persia, dan lainnya.

Wilayah Suku Karo

Sering terjadi kekeliruan dalam percakapan sehari-hari di masyarakat bahwa Taneh Karo diidentikkan dengan Kabupaten Karo. Padahal, Taneh Karo jauh lebih luas daripada Kabupaten Karo karena meliputi:

Kabupaten Tanah Karo


Tanah Karo terletak di kaki Gunung Sinabung (foto diambil sekitar tahun 1917).
Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Tanah Karo. Kota yang terkenal dengan di wilayah ini adalah Brastagi dan Kabanjahe. Brastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatera Utara yang sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal yaitu sebagai penghasil Markisa Jus yang terkenal hingga seluruh nusantara. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang sering disebut sebagai atau "Taneh Karo Simalem". Banyak keunikan-keunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah disebut trites.Trites ini disajikan pada saat pesta budaya, seperti pesta pernikahan, pesta memasuki rumah baru, dan pesta tahunan yang dinamakan -kerja tahun-. Trites ini bahannya diambil dari isilambung sapi/kerbau, yang belum dikeluarkan sebagai kotoran.Bahan inilah yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bahan rempah-rempah sehingga aroma tajam pada isi lambung berkurang dan dapat dinikmati. Masakan ini merupakan makanan favorit yang suguhan pertama diberikan kepada yang dihormati.

Kota Medan

Pendiri kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi.
Kota Binjai
Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari kota Medan sebagai Ibu kota provinsi Sumatera Utara.

Kabupaten Dairi


Wilayah kabupaten Dairi pada umumnya sangat subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang sangat berkualitas. Sebagian kabupaten Dairi yang merupakan Taneh Karo:
• Kecamatan Taneh Pinem
• Kecamatan Tiga Lingga
• Kecamatan Gunung Sitember

Kabupaten Aceh Tenggara

Taneh Karo di kabupaten Aceh Tenggara meliputi:
• Kecamatan Lau Sigala-gala (Desa Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga)
• Kecamatan Simpang Simadam

Kabupaten Aceh Tenggara

Taneh Karo di kabupaten Aceh Tenggara meliputi:
• Kecamatan Lau Sigala-gala (Desa Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga)
• Kecamatan Simpang Simadam

Marga

Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Masyarakat Karo mempunyai sistem marga (klan). Marga atau dalam bahasa Karo disebut merga tersebut disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan yang disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok, yang disebut dengan merga silima, yang berarti marga yang lima. Kelima merga tersebut adalah:

1. Karo-karo
2. Tarigan
3. Ginting
4. Sembiring
5. Perangin-angin

Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing. Setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Merga diperoleh secara otomatis dari ayah. Merga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Kalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut (b)ersenina, demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru sama, maka mereka disebut juga (b)ersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring dan Peranginangin ada yang dapat menikah diantara mereka.

Marga Karo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Merga Karo terdapat lima kelompok suku Karo, yaitu: Karokaro, Ginting, Tarigan, Sembiring, dan Perangin-angin. Klan (nama keluarga) dalam suku bangsa Karo disebut merga berbeda halnya dengan suku bangsa Batak (Silindung-Samosir-Humbang-Toba) yang disebut dengan marga.

Cabang-cabang merga suku Karo dan persebarannya.

A. Merga Karokaro dan cabang-cabangnya

1. Karokaro Sinulingga di Lingga, Bintang Meriah, dan Gunung Merlawan.
2. Karokaro Surbakti di Surbakti dan Gajah.
3. Karokaro Kacaribu di Kutagerat dan Kerapat
4. Karokaro Sinukaban di Kaban dan Sumbul.
5. Karokaro Barus di Barus Jahe, Pitu Kuta.
6. Karokaro Simbulan di Bulanjulu dan Bulanjahe.
7. Karokaro Jung di Kutanangka, Kalang, Perbesi, dan Batukarang.
8. Karokaro Purba di Kabanjahe, Berastagi, dan Lau Cih (Deli Hulu).
9. Karokaro Ketaren di Raya, Ketaren Sibolangit, dan Pertampilen.
10. Karokaro Gurusinga di Gurusinga dan Rajaberneh.
11. Karokaro Kaban di Pernantin, Kabantua, Bintang Meriah, Buluh Naman, dan L. Lingga.
12. Karokaro Sinuhaji di Ajisiempat.
13. Karokaro Sekali di Seberaya.
14. Karokaro Kemit di Kuta Bale.
15. Karokaro Bukit di Bukit dan Buluh Awar.
16. Karokaro Sinuraya di Bunuraya, Singgamanik, dan Kandibata.
17. Karokaro Samura di Samura.
18. Karokaro Sitepu di Naman dan Sukanalu

B. Merga Ginting dan cabang-cabangnya

1. Ginting Munte di Kutabangun, Ajinembah, Kubu, Dokan, Tanggung, Munte, Rajatengah, dan Bulan Jahe.
2. Ginting Babo di Gurubenua, Munte, dan Kutagerat.
3. Ginting Sugihen di Sugihen, Juhar, dan Kutagunung.
4. Ginting Gurupatih di Buluh Naman, Sarimunte, Naga, dan Lau Kapur.
5. Ginting Ajartambun di Rajamerahe.
6. Ginting Capah di Bukit dan Kalang.
7. Ginting Beras di Laupetundal.
8. Ginting Garamata di (Simarmata) Raja Tengah, Tengging.
9. Ginting Jadibata di Juhar.
10. Ginting Suka Ajartambun di Rajamerahe.
11. Ginting Manik di Tengging dan Lingga.
12. Ginting Sinusinga di Singa.
13. Ginting Jawak di Cingkes (?)
14. Ginting Seragih di Lingga Julu.
15. Ginting Tumangger di Kidupen dan Kemkem.
16. Ginting Pase di …. (lenyap?)

C. Merga Tarigan dan Cabang-cabangnya

1. Tarigan Sibero di Juhar, Kutaraja, Keriahen, Munte, Tanjung Beringin, Selakar, dan Lingga.
2. Tarigan Tambak di Kebayaken dan Sukanalu.
3. Tarigan Silangit di Gunung Meriah.
4. Tarigan Tua di Pergendangen, Talimbaru.
5. Tarigan Tegur di Suka.
6. Tarigan Gersang di Nagasaribu dan Berastepu.
7. Tarigan Gerneng di Cingkes (Simalungun).
8. Tarigan Gana-gana di Batukarang.
9. Tarigan Jampang di Pergendangen.
10. Tarigan Tambun di Rakutbesi, Binangara, Sinaman dll.
11. Tarigan Bondong di Lingga.
12. Tarigan Pekan (Cabang dari Tambak) di Sukanalu
13. Tarigan Purba di Purba (Simalungun)
D. Merga Sembiring dan Cabang-cabangnya

I. Sembiring Siman biang (Tidak biasa kawin campur darah dengan cabang Sembiring lainnya, artinya: tidak diperbolehkan perkawinan dengan sesama merga Sembiring).


1. Sembiring Kembaren di Samperaya dan hampir di seluruh urung Liang Melas.
2. Sembiring Sinulaki di Silalahi.
3. Sembiring Keloko di Pergendangen.
4. Sembiring Sinupayung di Juma Raja dan Negeri

II. Sembiring Simantangken biang (ada dilakukan perkawinan antara cabang merga Sembiring)


1. Sembiring Colia di Kubucolia dan Seberaya.
2. Sembiring Pandia di Seberaya, Payung, dan Beganding.
3. Sembiring Gurukinayan di Gurukinayan.
4. Sembiring Berahmana di Kabanjahe, Perbesi, dan Limang.
5. Sembiring Meliala di Sarinembah, Munte Rajaberneh, Kedupen, Kabanjahe, Naman, Berastepu, dan Biaknampe.
6. Sembiring Pande Bayang di Buluh Naman dan Gurusinga.
7. Sembiring Tekang di Kaban.
8. Sembiring Muham di Susuk dan Perbesi.
9. Sembiring Depari di Seberaya, Perbesi, dan Munte.
10. Sembiring Pelawi di Ajijahe, Perbaji, Kandibata, dan Hamparan Perak (Deli).
11. Sembiring Busuk di Kidupen dan Lau Perimbon.
12. Sembiring Sinukapar di Pertumbuken, Sidikalang(?) Sarintono.
13. Sembiring Keling di Juhar dan Rajatengah.
14. Sembiring Bunuh Aji di Sukatepu, Kutatonggal, dan Beganding
E. Merga Peranginangin dan cabang-cabangnya
1. Peranginangin Namohaji di Kutabuluh.
2. Peranginangin Sukatendel di Sukatendel.
3. Peranginangin Mano di Pergendangen.
4. Peranginangin Sebayang di Perbesi, Kuala, gunung dan Kuta Gerat.
5. Peranginangin Pencawan di Perbesi.
6. Peranginangin Sinurat di Kerenda.
7. Peranginangin Perbesi di Seberaya.
8. Peranginangin Ulunjandi di Juhar.
9. Peranginangin Penggarus di Susuk.
10. Peranginangin Pinem di Serintono (Sidikalang).
11. Peranginangin Uwir di Singgamanik.
12. Peranginangin Laksa di Juhar.
13. Peranginangin Singarimbun di Mardinding , Kutambaru dan Temburun.
14. Peranginangin Keliat di Mardinding.
15. Peranginangin Kacinambun di Kacinambun.
16. Peranginangin Bangun di Batukarang.
17. Peranginangin Tanjung di Penampen dan Berastepu.
18. Peranginangin Benjerang di Batukarang
Sebagian dari marga Peranginangin dan Sembiring dapat kawin sesamanya (antar cabang merga).
Ada pula merga yang melakukan Sejandi yaitu perjanjian tidak saling mengambil atau tidak mengadakan perkawinan antar merga bersangkutan, misalnya : antara Sembiring Tekang dengan Karokaro Sinulingga dan antara Karokaro Sitepu dengan Peranginangin Sebayang.

Rakut Sitelu

Hal lain yang penting dalam susunan masyarakat Karo adalah rakut sitelu atau daliken sitelu (artinya secara metaforik adalah tungku nan tiga), yang berarti ikatan yang tiga. Arti rakut sitelu tersebut adalah sangkep nggeluh (kelengkapan hidup) bagi orang Karo. Kelengkapan yang dimaksud adalah lembaga sosial yang terdapat dalam masyarakat Karo yang terdiri dari tiga kelompok, yaitu:
1. kalimbubu
2. anak beru
3. senina
Kalimbubu dapat didefinisikan sebagai keluarga pemberi isteri, anak beru keluarga yang mengambil atau menerima isteri, dan senina keluarga satu galur keturunan merga atau keluarga inti.
Tutur Siwaluh
Tutur siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan, yaitu terdiri dari delapan golongan:
1. puang kalimbubu
2. kalimbubu
3. senina
4. sembuyak
5. senina sipemeren
6. senina sepengalon/sedalanen
7. anak beru
8. anak beru menteri
Dalam pelaksanaan upacara adat, tutur siwaluh ini masih dapat dibagi lagi dalam kelompok-kelompok lebih khusus sesuai dengan keperluan dalam pelaksanaan upacara yang dilaksanakan, yaitu sebagai berikut:
1. Puang kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang
2. Kalimbubu adalah kelompok pemberi isteri kepada keluarga tertentu, kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi:
o Kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua, yaitu kelompok pemberiisteri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi isteri adal dari keluarga tersebut. Misalnya A bermerga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah kalimbubu Si A. Jika A mempunyai anak, maka merga Tarigan adalah kalimbubu bena-bena/kalimbubu tua dari anak A. Jadi kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua adalah kalimbubu dari ayah kandung.
o Kalimbubu simada dareh adalah berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu simada dareh adalah saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang. Disebut kalimbubu simada dareh karena merekalah yang dianggap mempunyai darah, karena dianggap darah merekalah yang terdapat dalam diri keponakannya.
o Kalimbubu iperdemui, berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu oleh karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya. Jadi seseorang itu menjadi kalimbubu adalah berdasarkan perkawinan.
3. Senina, yaitu mereka yang bersadara karena mempunyai merga dan submerga yang sama.
4. Sembuyak, secara harfiah se artinya satu dan mbuyak artinya kandungan, jadi artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan submerga juga, dalam bahasa Karo disebut sindauh ipedeher (yang jauh menjadi dekat).
5. Sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu-ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak siparibanen, yaitu orang-orang yang mempunyai isteri yang bersaudara.
6. Senina Sepengalon atau Sendalanen, yaitu orang yang bersaudara karena mempunyai anak-anak yang memperisteri dari beru yang sama.
7. Anak beru, berarti pihak yang mengambil isteri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu, dan secara tidak langsung melalui perantaraan orang lain, seperti anak beru menteri dan anak beru singikuri.Anak beru ini terdiri lagi atas:
o anak beru tua, adalah anak beru dalam satu keluarga turun temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil isteri dari keluarga tertentu (kalimbubunya). Anak beru tua adalah anak beru yang utama, karena tanpa kehadirannya dalam suatu upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubunya, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak beru tua juga berfungsi sebagai anak beru singerana (sebagai pembicara), karena fungsinya dalam upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin keluarga dalam keluarga kalimbubu dalam konteks upacara adat.
o Anak beru cekoh baka tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubunya. Anak beru sekoh baka tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala keluarga. Misalnya Si A seorang laki-laki, mempunyai saudara perempuan Si B, maka anak Si B adalah anak beru cekoh baka tutup dari Si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga bere-bere mama.
8. Anak beru menteri, yaitu anak berunya anak beru. Asal kata menteri adalah dari kata minteri yang berarti meluruskan. Jadi anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas sebagai petunjuk, mengawasi serta membantu tugas kalimbubunya dalam suatu kewajiban dalam upacara adat. Ada pula yang disebut anak beru singkuri, yaitu anak berunya anak beru menteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat.

Aksara Karo

Aksara Karo ini adalah aksara kuno yang dipergunakan oleh masyarakat Karo, akan tetapi pada saat ini penggunaannya sangat terbatas sekali bahkan hampir tidak pernah digunakan lagi.guna melengkapi cara penulisan perlu dilengkapi dengan anak huruf seperti o= ketolongen, x= sikurun, ketelengen dan pemantek
Tari tradisional
Suku Karo mempunyai beberapa tari tradisional, di antaranya:
• Piso Surit
• Lima Serangkai
• Terang Bulan

Kegiatan Budaya

• Merdang merdem = "kerja tahun" yang disertai "Gendang guro-guro aron".
• Mahpah = "kerja tahun" yang disertai "Gendang guro-guro aron".
• Mengket Rumah Mbaru - Pesta memasuki rumah (adat - ibadat) baru.
• Mbesur-mbesuri - "Ngerires" - membuat lemang waktu padi mulai bunting.
• Ndilo Udan - memanggil hujan.
• Rebu-rebu - mirip pesta "kerja tahun".
• Ngumbung - hari jeda "aron" (kumpulan pekerja di desa).
• Erpangir Ku Lau - Buang Sial.
• Raleng Tendi - "Ngicik Tendi" = memanggil jiwa setelah seseorang kurang tenang karena terkejut secara suatu kejadian yang tidak disangka-sangka.
• Motong Rambai - Pesta kecil keluarga - handai taulan untuk memanggkas habis rambut bayi (balita) yang terjalin dan tidak rapi.
• Ngaloken Cincin Upah Tendi - Upacara keluarga pemberian cincin permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere atau dari Bibi ke Permain).
• Ngaloken Rawit - Upacara keluarga pemberian pisau (tumbuk lada) atau belati atau celurit kecil yang berupa permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere) - keponakan laki-laki.

Merdang Merdem


Merdang Merdem atau Kerja Tahun adalah sebuah perayaan suku Karo di Kabupaten Karo. Konon merdang merdem tersebut merupakan kegiatan rutin setiap tahun yang biasanya dilaksanakan setelah acara menanam padi di sawah selesai. Perayaan tersebut merupakan bagian dari ucapan syukur kepada sang Pencipta karena kegiatan menanam padi telah selesai. Teriring doa agar tanaman padi tersebut diberkati sehingga bebas dari hama dan menghasilkan panen yang berlimpah. Momen yang melibatkan seluruh warga kampung tersebut biasanya juga dimanfaatkan muda-mudi sebagai ajang mencari jodoh. Setiap acara merdang merdem biasanya dimeriahkan dengan gendang guro-guro aron yaitu acara tari tradisional Karo yang melibatkan pasangan muda-mudi. Setiap kecamatan di Tanah Karo merayakan merdang merdem pada bulan yang berbeda. Kecamatan Munte merayakan merdang merdem pada hari ke-26 beraspati medem kalender Karo yang biasanya jatuh di bulan juli.
Konon, pesta sekampung tersebut sebegitu meriahnya sehingga lama perayaannya sampai enam hari dimana setiap hari mempunyai makna yang berbeda.
• Hari pertama, cikor-kor.
Hari tersebut merupakan bagian awal dari persiapan menyambut merdang merdem yang ditandai dengan kegiatan mencari kor-kor, sejenis serangga yang biasanya ada di dalam tanah. Umumnya lokasinya di bawah pepohonan. Pada hari itu semua penduduk pergi ke ladang untuk mencari kor-kor untuk dijadikan lauk makanan pada hari itu.
• Hari kedua, cikurung.
Seperti halnya pada hari pertama hari kedua ditandai dengan kegiatan mencari kurung di ladang atau sawah. Kurung adalah binatang yang hidup di tanah basah atau sawah, biasa dijadikan lauk oleh masyarakat Karo.
• Hari ketiga, ndurung.
Hari ketiga ditandai dengan kegiatan mencari nurung, sebutan untuk ikan, di sawah atau sungai. Pada hari itu penduduk satu kampung makan dengan lauk ikan. Ikan yang ditangkap biasanya nurung mas, lele yang biasa disebut sebakut, kaperas, belut.
• Hari keempat, mantem atau motong.
Hari tersebut adalah sehari menjelang hari perayaan puncak. Pada hari itu penduduk kampung memotong lembu, kerbau, dan babi untuk dijadikan lauk.
• Hari kelima, matana.
Matana artinya hari puncak perayaan. Pada hari itu semua penduduk saling mengunjungi kerabatnya. Setiap kali berkunjung semua menu yang sudah dikumpulkan semenjak hari cikor-kor, cikurung, ndurung, dan mantem dihidangkan. Pada saat tersebut semua penduduk bergembira. Panen sudah berjalan dengan baik dan kegiatan menanam padi juga telah selesai dilaksanakan. Pusat perayaan biasanya di alun-alun atau biasa disebut los, semacam balai tempat perayaan pesta. Acara disitu dimeriahkan dengan gendang guro-guro aron dimana muda-mudi yang sudah dihias dengan pakaian adat melakukan tari tradisional. Perayaan tidak hanya dirayakan oleh penduduk kampung tetapi juga kerabat dari luar kampung ikut diundang menambah suasana semakin semarak. Pada hari itu pekerjaan paling berat adalah makan. Karena setiap kali berkunjung ke rumah kerabat aturannya wajib makan.
Hari keenam, nimpa.
Hari itu ditandai dengan kegiatan membuat cimpa, makanan khas Karo, biasa disebut lepat. Cimpa bahan dasarnya adalah tepung terigu, gula merah, dan kelapa parut. Cimpa tesebut biasanya selain untuk hidangan tambahan setelah makan. Tidak lengkap rasanya merdang merdem tanpa kehadiran cimpa. Untuk kecamatan lain di Tanah Karo kegiatan nimpa diganti dengan ngerires yaitu acara membuat rires yang dalam bahasa indonesia disebut lemang. Cimpa atau lemang daya tahannya cukup lama, masih baik untuk dimakan meski sudah dua hari lamanya. Oleh karena itu cimpa atau rires cocok untuk dijadikan oleh-oleh bagi tamu ketika pulang.
Hari ketujuh, rebu.
Hari tersebut merupakan hari terakhir dari serangkaian pesta enam hari sebelumnya. Pada hari tersebut tidak ada kegiatan yang dilakukan. Tamu-tamu sudah kembali ke tempat asalnya. Semua penduduk berdiam di rumah. Acara kunjung-mengunjungi telah selesai. Pergi ke sawah atau ladang juga dilarang pada hari itu. Seperti halnya arti rebu itu sendiri yang artinya tidak saling menegur, hari itu adalah hari penenangan diri setelah selama enam hari berpesta. Beragam kesan tinggal melekat dalam hati masing-masing penduduk kampung. Hari besok telah menanti untuk kembali melakukan aktivitas sebagaimana hari-hari biasanya.

Piso Surit

Piso dalam bahasa karo sebenarnya berarti pisau dan banyak orang mengira bahwa Piso Surit merupakan nama sejenis pisau khas orang karo. Sebenarnya Piso Surit adalah nama sejenis burung yang suka bernyanyi. Kicau burung ini bila didengar secara seksama sepertinya sedang memanggil-manggil seseorang dan kedengaran sangat menyedihkan.
Tarian Piso Surit adalah tarian yang menggambarkan seorang gadis yang sedang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian tersebut sangat lama dan menyedihkan dan digambarkan seperti burung Piso Surit yang sedang memanggil-manggil.
Lagu Piso Surit Diciptakan Oleh Djaga Depari salah seorang tokoh masyarakat karo sekaligus komponis nasional pada masa orde lama.

kalo temen-temen punya info lain, boleh di share di kolom comment yaa..

MEJUAH-JUAH


Tempat-Tempat Wisata di Kab.Karo Sumatera Utara

kalo bermanfaat jangan lupa emoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Star dan komengnya juga emoticon-Big Grin
1.Kampung Lingga

[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO

Kampung Lingga terletak di ketinggian sekitar 1.200 m dari permukaan laut, lebih kurang 15 km dari Brastagi. Lingga merupakan perkampungan Batak Karo yang unik, memiliki rumah-rumah adat yang diperkirakan berumur 250 tahun, tetapi kondisinya masih kokoh. Rumah tersebut dihuni oleh 5-6 keluarga yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Rumah adat Karo ini tidak memiliki ruangan yang dipisahkan oleh pembatas berupa dinding kayu atau lainnya. Objek wisata budaya terdapat di kampung Lingga lk 16 km ke arah selatan kota Brastagi. Sarana jalan cukup baik, dan transportasi umum tersedia.
Kampung Lingga memiliki bangunan tradisional seperti: rumah adat, jambur, geriten, lesung, sapo page dan museum karo. Geriten, digunakan sebagai tempat penyimpanan kerangka mayat keluarga tertentu yang dianggap istimewa. Rumah adat karo mempunyai ciri serta bentuk yang sangat khusus, didalamnya terdapat ruangan yang besar dan tidak mempunyai kamar-kamar. Satu rumah dihuni 8 atau 10 keluarga. Rumah adat berupa rumah panggung, tingginya kira-kira 2 meter dari tanah yang ditopang oleh tiang, umumnya berjumlah 16 buah dari kayu ukuran besar.

2. Air Terjun Sipiso-piso

[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO
[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO

Merupakan sebuah kawasan wisata alam yang terletak tidak jauh dari permukiman masyarakat Desa Tongging, Kecamatan Merek. Hanya terpisah jarak sejauh 35 km Berastagi, Kabupaten Karo dan hanya memerlukan sekitar 45 menit dari Kota Medan.
Air Terjun Sipiso-piso terletak di perbukitan yang lebih tinggi dari Desa Tongging. Air terjun ini berada di ketinggian lebih kurang 800 meter dari permukaan laut (dpl) dan dikelilingi oleh bukit yang hijau karena ditumbuhi hutan pinus.

3. Bukit Gundaling

[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO

Berjarak kurang lebih 3 km dari Brastagi atau kurang lebih 66 km dari Medan. Bukit yang memiliki ketinggian 1.575 dari permukaan laut ini sangat nyaman sebagai tempat rekreasi keluarga.
Dari atas bukit ini pula pengunjung dapat menikmati panorama Gunung Sibayak dan Sinabung. Lokasi wisata ini sudah dikenal sejak zaman Belanda sebagai tempat rekreasi yang mengasyikan

4. Lau Debuk-debuk

[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO
[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO

Taman Wisata Alam (TWA) Lau Debuk-debuk berlokasi di Desa Doulu, Kecamatan Berastagi. Kawasan ini yang memiliki panorama alam yang indah dan udara bersih yang sejuk ini mempunyai luas area mencapai 7 hektar, dengan topografi yang didominasi permukaan tanah yang rata.
Air panasnya mengandung belerang dan diyakini dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit kulit. Mata air panas ini muncul melalui retakan dari aliran lava di daerah selatan lereng Gunung Sibayak. Mata air panas ini kemudian ditampung ke dalam kolam-kolam. Terdapat 5 buah kolam pemandian yang temperatur airnya mencapai 35 derajat celcius dan suhu udara disana mencapai sekitar 27 derajat celcius. Sebagian dari para pendaki banyak memanfaatkan kolam-kolam air panas ini untuk melepaskan penat setelah melakukan pendakian, dengan cara berendam di dalam kolam tersebut.

5. Lau Kawar

[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO
[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO

Merupakan danau di kawasan ekosistem Leuser (KEL) terletak di kaki Gunung Sinabung berjarak sekitar 30 Km dari Kota Berastagi. Danau seluas 200 Ha ini bila dibandingkan dengan Danau Toba, memang hanya 1/6, namun pesonanya tidak kalah.
Lau Kawar adalah pintu masuk menuju Gunung Sinabung. Karenanya lokasinya sangat eksotis. Memasuki pintu gerbang Lau Kawar, di sisi kanan danau terletak Deleng Lancuk atau Bukit Lancuk yang biasa menjadi tempat tracking, cukup banyak anggrek hutan yang bisa ditemukan.

6.Tahura

[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO
[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO

Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan berlokasi kira-kira 6 km sebelum Kota Brastagi dari Medan. Taman itu punya kebun binatang dengan pondok-pondok unik dan gajah tunggangan untuk anak-anak. Jalan setapak menuju hutan juga tersedia, untuk pengunjung yang ingin meneliti ataupun sekadar melihat tumbuhan hutan, anggrek-anggrek liar, pakis-pakis besar, berbagai tumbuhan kayu liar berselimut lumut dan jamur, beragam jenis kupu-kupu, burung-burung, kera, dan lainnya.

7.Gua Liang Dahar

[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO

Gua Liang Dahar adalah sebuah goa yang terletak di Desa Laubuluh Kecamatan Kutabuluh Kabupaten Karo, Goa ini memiliki kedalaman sekita 200 meter di bawah tanah dan tempat ini tergolong unik karena merupakan sebuah Goa yang menakjubkan. 

Di dalamnya terdapat banyak kelelawat hitam dan tidak terlalu besar, dan kelelawar ini kadang ditangkap oleh penduduk setempat untuk dijadikan bahan makanan,Gua Liang Dahar mempunyai 3 ruang besar dengan ukuran masing–masing 500 m², 400 m² dan 300 m², serta ruang ukuran kecil lainnya

8.Meriam Putri Hijau

[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO

Meriam Putri Hijau dapat kita temui di Desa Sukanalu dan Seberaya yang hingga sekarang masih dianggap oleh masyarakat mempunyai magic dan setiap tahun dibersihkan serta sesajen (upah) atau cibal-cibalen oleh masyarakat setempat. Jarak dari kota Berastagi ke Desa Sukanalu 23 Km dan ke Seberaya 7 Km.

9. Air Terjun Sikulikap

[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO
[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO

Bila Anda jenuh, jalan-jalanlah ke Penatapan Berastagi. Di sana banyak yang bisa dinikmati, ada jagung rebus dan bakar yang enak. Kalau mau menikmati pemandangan alam nongkrong saja di warung Penatapan. Anda bisa melepaskan kejenuhan dengan menghirup udara pegunungan yang segar.

Lokasinya tidak jauh dari Pabrik Air Mineral Aqua, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo dan berada diperbatasan Kabupaten Karo dan Deli Serdang. Dari Medan, jaraknya sekitar 54 kilometer.

Bila tertantang menjelajahi alam, pilihlah lokasi strategi dengan pemandangan alamnnya yang tak bakal bisa dilupakan, Air Terjun Sikulikap.
Dikelilingi hutan tropis tempat Gibon bergantungan yang kadangkala berteriak bersahut-sahutan dan di sekitar lokasi ini terdapat bajing, burung gagak, phyton dan kupu-kupu berwarna-warni.

Anda mungkin pernah mengunjungi obyek wisata ini, tapi tidak ada salahnya untuk kembali kesana karena pemandangan alamnya sangat menawan.

10.Gunung Sibayak

[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO
[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO

Gunung Berapi Sibayak dalam keadaaan aktif berlokasi di atas ketinggian 2.172 m dari permukaan laut. Pendakiannya melewati hutan belantara tropis dan tebing yang penuh tantangan serta di puncak gunung terdapat hamparan dataran tempat berkemah. Dari puncak gunung terlihat kawah yang masih aktif mengeluarkan magma dan pemandangan yang indah dan menawan. Jarak dari Kota Berastagi ke tempat awal pendakian dari Desa Jaranguda 1,5 Km dari Desa Raja Berneh 15 Km. Lama pendakian diperkirakan lebih kurang 2 sampai dengan 3 jam.

11. Gunung Sinabung

[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO
[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO

Gunungapi Sinabung adalah gunungapi strato berbentuk kerucut, dengan tinggi puncaknya 2460 m dpl. Lokasi Gunungapi Sinabung secara administratif masuk ke dalam Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis terletak pada posisi 3o10’ Lintang Utara dan 98o23,5’ Bujur Timur.
Pendakian melewati belantara tropis dan tebing yang penuh dengan tantangan, dan puncak gunung terdapat hamparan untuk berkemah. Dari puncak gunung terlihat kawah yang mengeluarkan magma serta pemandangan indah yang menawan. Jarak dari Kota Berastagi ke tempat awal pendakian Gunung Sinabung dari desa Sigarang-garang, Lau Kawar, Mardinding memakan waktu lebih kurang 4 jam.

12.Taman Alam Lumbini

[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO
[indahhhhnyaa !!!] TEMPAT-TEMPAT WISATA DI TANAH KARO

Taman Alam Lumbini ini terletak di Desa Tongkoh , Kecamatan Dolatrayat , Kabupaten karo , dekat di wilayah daerah Tujuan Wisata Brastagi , 50 kilometer dari Medan , Sumatera Utara.

TAL dengan cepat akrab di telinga penikmat wisata religius, sebagai tempat daerah kunjungan wisata yang menarik untuk di kunjungi,Tanpa mengutip bayaran sepeserpun kepada setiap wistawan yang berkunjung ke lokasi objek wisata itu, penglola atau pemilik Taman Alam Lumbini, mempersiapkan dan menyediakan berbagai fasilitas pendukung pelayanan objek tujuan wisata yang dikelola dengan manajemen profesional.

Mulai dari toilet, fasilitas pelayanan informasi, taman-taman rekreasi, permainan anak-anak, peralatan fitness, jembatan gantung sebagai infrastruktur penyeberang yang di padu dengan gelantungan puluhan lentera, ditata indah dan apik disesuaikan dengan suasana hutan alam di sekelilingnya.

Begitu juga fasilitas penunjang lainnya untuk kebutuhan pengunjung,pengelola telah mempersiapkan sejumlah toko-toko kecil (kios) menjual souvenir, makanan ringan dan menjual pulsa.

Taman Alam Lumbini, menyajikan replika Pagoda Shwedagon, tertinggi kedua di antara replika sejenis di luar negeri yang berada di Birma, dan merupakan Pagoda tertinggi di Indonesia. Sejak dibuka untuk umum Oktober 2010 telah memegang dua rekor MURI yaitu Pagoda tertinggi di Indonesia (rekor pertama) dan kebaktian dihadiri bhiku terbanyak (rekor kedua). Sebuah objek wisata religius yang luar biasa dan senantiasa mengajak pengunjung mencintai alam.


for Sumber : http://pariwisatakaro.blogspot.com/2...kabupaten.html
http://antonius72barus.blogspot.com/...anah-karo.html

sekian info dari saya guys sebenarnya masih banyak lagi tempat wisata di Tanah Karo tercinta, emoticon-Kiss  klo kalian tau tempat wisatanya boleh kok share disini yaaemoticon-Jempol